Minggu, 30 September 2012

Permainan Anak Tradisional


Dunia anak-anak memang penuh dengan riang canda, kepolosan dan keluguan. Dimana pada masa itu adalah masa yang paling berharga dalam segi perkembangan diri yang mencakup banyak hal. Dan pada masa itu pula “ Bermain” merupakan salah satu menu utama mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dahulu pada saat saya masih kecil, permainan yang sering kami lakukan adalah permainan tradisional, karena memang pada saat itu dan masa sebelumnya juga mengalami permainan yang kurang lebih juga sama, seperti main tap benteng (bentengan), petak umpet, tap jongkok, dampu, congklak, ular naga, kelereng (gundu), main karet (karet gelang yang drangkai seperti rantai hingga mencapai panjang tertentu atau yang dibutuhkan), dan masih banyak lagi.
Sementara pada saat sekarang ini, permainan yang dilakukan oleh anak-anak lebih dimanjakan kepada peralatan alat elektronik dan teknologi, seperti Play station, Game PC, bahkan gadget-gadget yang sudah tertanam pada Smart phone dan sejenisnya yang rata-rata sudah menggunakan layar sentuh. Hal ini juga tidak terlepas dari perkembangan zaman dan Teknologi serta keterbatasan ruang/lahan, sehingga sulit bermain di lahan yang lapang seperti di Kota Jakarta ini.

Kalau kita kaji, ternyata banyak manfaat yang lebih besar yang bisa diambil dan dipetik dari permainan tradisional, diantaranya :

Hubungan Sosial diantara Sesama

Biasanya permainan tradisional pasti melibatkan sedikitnya minimal 2 orang. Yang berarti disitu akan ada aksi dan interaksi yang dilakukan diantara mereka.

Mewujudkan Kreativitas

Karena permainan tradisional juga biasanya tidak tergantung kepada alat permainan yang harus dibeli, maka mereka harus berkreativitas menggunakan benda-benda yang ada disekitarnya untuk bisa dijadikan alat untuk bermain.

Mengembangkan Logika

Banyak sekali permainan Tradisional yang mengharuskan para pemainnya berupaya mengatur dan menyusun strategi. Ini semua dilakukan atau dipraktekkan secara langsung bagaimana cara untuk memperoleh kemenangan, baik kemenangan untuk dirinya maupun kelompoknya.

Melatih motorik

Karena kebanyakan permainan tradisional dilakukan di luar ruangan, maka motorik anak harus terlatih pada saat memainkannya. Dari berbagai permainan yang telah disebutkan di atas, rata-rata membutuhkan gerakan berlari dan melompat seperti bermain tap benteng (bentengan) dan bermain Lompat karet.

Demikianlah tulisan ini dibuat untuk sekedar mengenang masa kecil, serta permainan-permainan yang dulu sering Saya lakukan.

Sebagai tambahan, berikut ini adalah beberapa permainan tradisional tersebut :

1. Congklak.

Congklak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan ini, biji congklak menggunakan sejenis cangkang kerang, dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan.


Cara bermain Congklak :
Permainan congkak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congkak. Umumnya papan congkak terbuat dari kayu atau plastik, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congkak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lubang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain.

Pada awal permainan setiap lubang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lubang yang akan diambil dan meletakkan satu persatu ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya (mengitari). Bila biji habis di lobang kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bila habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lubang kecil di sisinya. bila habis di lubang kecil di sisinya dan ia berhenti tepat dilubang yang berhadapan yang berisi, maka ia berhak mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lubang yang kosong di sisi lawan maka ia hanya berhenti saja dan tidak mendapatkan apa-apa.

Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat diambil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak. 

2. Tap Benteng (Bentengan)

Adalah permainan yang dimainkan oleh dua kelompok, yang masing - masing kelompok terdiri dari 4 sampai 6 orang lebih . Masing - masing kelompok memilih dan memiliki suatu tempat sebagai markas, biasanya sebuah tiang, pohon, batu atau pilar yang dijadikan sebagai 'benteng'. 


Cara Bermain Benteng :

Cara bermainnya cukup mudah yaitu masing-masing kelompok saling menyerang dan mengambil alih 'benteng' lawan dengan cara menyentuh tiang atau pilar yang dimiliki lawan (sambil berlarian kesana kemari) sehingga siapa yang berhasil lebih dulu menyentuh Benteng lawan, maka kelompok tersebutlah yang berhak menjadi pemenangnya sembari meneriakkan kata ‘’benteng”.

Kemenangan juga bisa diraih dengan 'menawan' seluruh anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka, dalam hal ini yang berhak menentukan lawan hingga menjadi tawanan adalah jika salah satu diantara mereka adalah orang yang terakhir atau yang baru saja menyentuh benteng miliknya. Sementara itu tawanan tadi lalu dibariskan berjajar sambil berpegangan tangan diantara mereka di tiang atau pilar dibenteng kita. Namun dalam hal ini sang tawanan juga bisa dibebaskan dengan menyentuh juga bagian tubuh mereka yang dilakukan oleh kawannya.

3. Petak Umpet

Main-main petak umpet memang menyenangkan. Permainan Petak Umpet diawali dengan cara “hompimpah” untuk menentukan siapa yang menjadi penjaga atau orang yang nanti akan mencari teman-teman yang lain dari tempat persembunyiannya. Tempat bagi si penjaga (markas) bisa di setiap tempat, tapi biasanya menghadap ke tembok, pohon, pagar, atau apapun yang bisa digunakan sembari menutup matanya (agar tidak melihat teman yang lain yang sedang mencari tempat untuk bersembunyi). 


Ada banyak nama lain untuk permainan ini, yakni Inglo, Bon, Hong, dan bahasa Indonesia yang lazim digunakan adalah petak umpet.

Permainan dimulai dengan hitungan yang disepakati bersama. Siapa yang menjadi penjangga akan mulai berhitung 1 hingga 10 atau lebih, Sementara dengan waktu yang sangat terbatas, yang lain akan berlarian kesana kemari untuk mencari tempat untuk bersembunyi. Karena selain harus menemukan persembunyian temannya, sipenjaga juga harus lebih dulu menyentuh bentengnya (markas) agar yang ketahuan bersembunyi tadi akan menjadi calon penjaga berikutnya. Sementara jika yang bersembunyi lebih dulu menyentuh bentengnya, maka ia akan terbebas dari calon penjaga sambil menyebutkan kata ‘’inglo’’ (penyebutan tergantung dari nama permainan yang telah disebutkan diatas tadi).

Ada juga istilah unik dalam permainan ini. Yaitu ketika sipenjaga salah menyebutkan nama seseorang yang ketahuan dalam persembunyiannya, maka seseorang yang tadi salah disebutkan namanya akan berkata ‘’Kebakaran”. Dan setelah itu ia akan dibebaskan sebagai calon penjaga berikutnya. 

Setelah seluruh orang yang bersembunyi tadi muncul, tidak semua dari mereka terbebaskan dari calon penjaga (karena semua tergantung kecepatan dan siapa yang lebih dulu menyentuh markas sipenjaga dari penjaganya itu sendiri). Setelah itu yang bersembunyi tadi akan berbaris dibelakang pundak sipenjaga , sementara sipenjaga (sambil menutup mata) akan menebak nomor urutan dari sekian orang yang ikut dalam permain tadi. Jika ia menyebutkan urutan nomor ‘’3’’, sementara nomor ‘’3’’ adalah salah satu orang yang terbebas dari calon penjaga, maka ia akan menjadi penjaga kembali. Namun jika sebaliknya ia benar menebak urutan salah satu pemain yang tidak terbebas dari calon penjaga, maka orang yang tadi disebutkan akan menjadi penjaga.

4. Ular Naga

Permainan ini dimainkan berkelompok. Dua anak menjadi gerbang, berpegangan tangan ke atas, sedangkan anak-anak lainnya saling memegang bahu temannya sehingga mirip ular yang panjang berjalan memutari gerbang. Sembari mengitari gerbang tadi Lalu mereka serentak menyanyikan lagu:


Ular naga panjangnya bukan kepalang
Berjalan-jalan selalu kian kemari
Umpan yang lezat itulah yang dicari
Ini dianya yang terbelakang
Kosong kosong kosong
Isi isi isi


Pada saat lagu selesai dimainkan, maka gerbang akan menutup. Anak yang terperangkap akan disisihkan dari rombongannya, lalu sambil berbisik-bisik anak tersebut harus memilih salah satu dari pilihan yang diberikan padanya (misalnya nama buah, mangga atau duren, atau nama hewan, kuda atau elang). Pilihan itu akan menentukan ia akan menjadi 'anak' dari induk yang menjadi gerbang tadi. Tiap anak yang terperangkap akan diberi pilihan yang sama, hingga anggota ular habis dan tiap induk punya anak masing-masing.


Kedua induk saling berhadapan dan anak-anaknya berbaris memegang pinggang pundak induk masing-masing. Tugas induk adalah menjaga anak-anaknya, serta menarik anak lawannya agar menjadi anaknya. nah... ini bagian paling seru, tiap anak akan mengikuti gerak induknya tanpa melepas tangannya dari barisan di depannya. induk yang anaknya habis duluan akan dinyatakan kalah


*Isi dikutip dari berbagai sumber 




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar